Berkebun di mana saja

Kamis, 05 Maret 2015

Apakah Hidroponik itu?

Apakah Hidroponik itu?

Hidroponik adalah menanam sayuran yang menyenangkan.

Terus, Hidroponik itu apa sih?

Hidroponik itu adalah budidaya tanaman dengan menempatkan akar dalam air, bukan dalam tanah. Begitu singkatnya!

Penjelasan sederhana tentang Hidroponik

Pertama, Anda perlu memahami bagaimana tanaman benar-benar tumbuh. Apakah Anda tahu bahwa mereka tidak benar-benar membutuhkan tanah sama sekali? Mereka membutuhkan nutrisi bersembunyi di dalamnya.

Budidaya secara hidroponik adalah budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah.  Wadah media tanam dapat berupa pot, ember atau kantong plastik.  Pada budidaya hidroponik ini media tanam bisa berupa pasir, kerikil, pecahan bata, pecahan genteng atau limbah organik seperti  sabut kelapa, akar pakis dan lain-lain. 

Media tempat tegaknya tanaman sama sekali tidak mengandung hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Oleh karena itu unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman ditambahkan melalui pemberian larutan unsur hara. Larutan hara dapat diberikan melaui penyiraman, penyemprotan atau pipa.  Pada budaidaya hidroponik hara yang dibutuhkan tanaman diberikan dalam bentuk larutan sehingga mudah diserap oleh akar tanaman.  Dengan demikian tanaman dapat tumbuh lebih baik dan subur.  

Semua tanaman secara teknis dapat dihidroponikkan, tanaman hias yang berhasil dihidroponikan adalah Begonia, Draecerna, Philodenron dan Sansivera (Lingga, 1984).  Tanaman sayur-sayuran yang berhasil dihidroponikkan antara lain : cabai, tomat, selada, kangkung, bayam, paprika dan lain-lain. Wijayani dan Widodo (2005) berhasil meningkatkan kualitas buah tomat dengan sistem budidaya hidroponik.


Hidroponik mampu meningkatkan optimalisasi pengguanaan lahan pekarangan yang sempit, perlu dilakukan usaha yang meningkatkan daya guna pekarangan. Manfaat yang diharapkan adalah masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan dengan menanam tanaman sayur-sayuran di pekarangan secara hidroponik, dimana dengan cara ini pekarangan tetap bersih karena tidak menggunakan tanah dan tanaman pertumbuhannya baik karena hara yang dibutuhkan tersedia.


Bercocok tanam tanpa tanah berarti mengubah cara pemberian kebutuhan tanaman  melalui pengairan, tetapi bukan berarti kebutuhan tanaman dapat dihilangkan atau dikurangi. Demikian pula halnya dengan keperluan tanaman akan cahaya dan suhu.  Tanaman memerlukan cahaya, suhu dan kelembaban sesuai dengan aslinya.  Hal ini perlukan dipertahatikan mengingat tanman tidak akan tumbuh berkembang dengan baik tanpa cahaya dan suhu yang sesuai dengan kebutuhannya (Lingga, 1984). 


Tanaman yang akan dipindahkan pada media hidroponik terlebih dahulu akar tanaman dibersihkan dari partikel tanah yang melekat.  Pencucuian harus dilakukan hati-hati sekali, dan semua partikel tanah yang menempel pada akar dibersihkan (Lingga, 1984).  Pencucian sebaiknya dilakukan pada air mengalir dan jangan sampai merusak akar yang lunak (Soeseno, 1985).  Setelah akar-akar dibersihkan, ditanam pada wadah dalam secara hati-hati.  Ditaburkan media secukupnya sehingga menutupi akar tanaman (Douglass, 1976, Hasyim, 1984). 

Banyak kelebihan yang dimiliki sistem budidaya hidroponik dibandingkan dengan budidaya tanah. Hasyim (1984) menyatakan bahwa sistem budidaya hidroponik lebih murah dan praktis.  Kemungkinan tanaman untuk mati adakah kecil sekali, karena makanan terjamin.  Disamping itu penggunaan pupuk lebih terkontrol dan lebih efisiensi.

Diantara pupuk yang dapat digunakan untuk hidroponik adalah Lewatit HD 5.  Pemberian pupuk Lewatit HD-5 memberikan pertumbuhan terbaik untuk tanaman Begonia (Warnita, 1987).  Banyak hara lain yang dapat digunakan antara lain Douglas, Sach, Joro A dan Joro B.  

Pemberian nitrogen dengan konsentrasi tinggi akan berakibat serapannya menjadi rendah.  Terjadinya hal ini karena konsentrasi tinggi akan menyebabkan larutan hara menjadi lebih pekat melampai kepekatan cairan sel, sehingga tak dapat diserap oleh akar secara maksimum karena tekanan osmosis sel menjadi lebih kecil dibanding tekanan osmosis di luar sel sehingga kemungkinan akan terjadi aliran balik cairan sel-sel tanaman atau plasmolisis (Marschner, 1986 ; Wijayani, 2000). 


Share:

Kamis, 12 Februari 2015

Manisnya Melon Golden Hidroponik

Buah-buah melon golden apollo dan luna yang ditanam dalam polibag itu tampak bergelayut manja. Sebagian besar buahnya ditutup semacam kantong putih agar mulus dan tidak dihinggapi hama.
Buah-buah seukuran 3 kali kepalan tangan orang dewasa itu saat dibelah dan disantap benar-benar crispy…kres…kres…,dan manis. Kadar kemanisannya mencapai 14-16 brix, lebih tinggi 2-3 brix dari kadar kemanisan melon yang ditanam beberapa pekebun di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Rasa crispy dan kadar kemanisan yang tinggi itu karena melon ditanam secara hidroponik. Hidroponik yang diaplikasi untuk melon ini memakai sistem irigasi tetes atau drip irigation. Dari tangki nutrisi, larutan nutrisi mengalir ke melon hidroponik. Larutan nutrisi itu meresap ke media tanam melalui selang yang ditancapkan di setiap media tanam.

Media hidroponik yang digunakan adalah campuran arang sekam dan cocopeat alias sabut kelapa dengan perbandingannya 1:1.Buah yang dihasilkan dari budidaya melon hidroponik sistem irigasi tetes itu berbobot 1,5 kg sampai 2,8 kg. Harga jual melon rata-rata seharga Rp17.000 per kilogram.


Nutrisi yang harus diperhatikan benar saat musim kemarau dan musim hujan dan saat musim hujan secara alami kadar kemanisan melon menurun. Namun itu bisa disiasati dengan pemberian campuran nutrisi yang tepat.


Share:

Rabu, 07 Januari 2015

Panen Sayur Melimpah dengan Drip Irrigation



Sukses atau tidaknya menanam sayuran sangat bergantung sekali dengan pengairan atau sistem irigasi dari tanaman sayuran. Petani terdahulu pernah mengatakan, "Jangan sekali-kali kamu menanam tanaman jika kamu tidak bisa memberikan air yang bagus untuk tanaman itu". Pada kesempatan ini hidrafarm akan memberikan tips bagaimana cara membuat sistem pengairan yang baik agar tanaman sehat dan senang.

Irigasi tetes (Drip Irrigation) merupakan salah satu teknologi mutakhir dalam bidang irigasi yang telah berkembang hampir di seluruh dunia. Teknologi ini mula pertama diperkenalkan di Timur Tengah, dan kemudian menyebar hampir ke seluruh pelosok penjuru dunia. Pada hakekatnya teknologi ini sangat cocok diterapkan padakondisi lahan kering berpasir, air yang sangat terbatas, iklim yang kering dan komoditas yang diusahakan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi

Air merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman terutama untuk memperoleh hasil produksi (yield) dan kualitas (quality) yang tinggi. Berbagai macam cara dilakukan petani untuk memberikan air yang cukup bagi tanamannya mulai dari yang paling sederhana yaitu dengan cara kocoran, cara di genangi (di leb) sampai dengan cara-cara modern seperti springkle dan drip irrigation.

Petani tradisional melakukan pengairan dengan cara di genangi (floading) untuk sayuran. Keuntungan penggunaan cara ini adalah mudah dilakukan dan sangat murah bila kondisi air mencukupi. Kekurangannya adalah Jumlah air yang diberikan harus benar-benar dikendalikan sebab air yang berlebihan akan membuat tanaman menjadi layu karena tergenang (water lodging). Disamping itu air akan merangsang biji-biji gulma untuk tumbuh subur yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman tembakau. Vollume air yang tinggi juga bisa membuat tanah menjadi padat sehingga mengganggu pertumbuhan akar tanaman.

Sistim irigasi tetes (Drip irrigation) sudah banyak digunakan untuk tanaman-tanaman hortikultura bernilai tinggi seperti Cabe, paprika, tomat, melon dll. Irigasi tetes ini bisa digunakan di lahan terbuka maupun di Green house. Beberapa keuntungan penggunaan irigasi tetes pada tanaman adalah :



1.      Meningkatkan produktivitas syuran.
2.      Meningkatkan kualitas sayuran karena pertumbuhan tanaman sayur seragam
3.      Mengurangi tingkat kerusakan sayuran saat pasca panen terutama daun bawah
4.      Hemat air
5.      Irigasi dapat dilakukan dalam jumlah dan waktu yang tepat.
6.      Menekan pertumbuhan gulma karena air hanya diteteskan di sekitar batang tanaman
7.      Tanah tidak memadat karena volume air yang diberikan tidak dalam jumlah besar.


Peralatan yang diperlukan untuk Irigasi Tetes (Drip Irrigation)
  1. Pompa air dan pipa-pipa
  2. Saringan-saringan air
  3. Tabung pemupukan
  4. Pipa-pipa saluran drip irigasi meliputi Pipa pembagi Utama, Pipa pembagi sekunder dan pipa-pipa lateral yang akan membagikan air per tanaman.

      Air merupakan salah satu factor penting dalam pertumbuhan tanaman terutama untuk memperoleh hasil produksi (yield) dan kualitas (quality) yang tinggi. Berbagai macam cara dilakukan petani untuk memberikan air yang cukup bagi tanamannya mulai dari yang paling sederhana yaitu dengan cara kocoran, cara di genangi (di leb) sampai dengan cara-cara modern seperti springkle dan drip irrigation.

            Tembakau adalah salah satu jenis tanaman yang tidak terlalu banyak memerlukan air selama pertumbuhannya. Kebutuhan air untuk tanaman tembakau kira-kira hanya 20% dari kebutuhan air untuk tanaman padi. Walaupun kebutuhan airnya tidak terlalu banyak tetapi pada periode tertentu tanaman tembakau harus mendapat pasokan (supply) air yang cukup terutama pada periode pertumbuhan cepat (Fast growing peiode) yaitu umur setelah stress periode atau sekitar 25 – 65 HST.

            Petani tradisional melakukan pengairan dengan cara di genangi (floading) terutama untuk tembakau Virginia dan burley. Keuntungan penggunaan cara ini adalah mudah dilakukan dan sangat murah bila kondisi air mencukupi. Kekurangannya adalah Jumlah air yang diberikan harus benar-benar dikendalikan sebab air yang berlebihan akan membuat tanaman menjadi layu karena tergenang (water lodging). Disamping itu air akan merangsang biji-biji gulma untuk tumbuh subur yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman tembakau. Vollume air yang tinggi juga bisa membuat tanah menjadi padat sehingga mengganggu pertumbuhan akar tanaman.

            Berbeda dengan tembakau Virginia dan burley, Petani tembaku rajangan pada umumnya menggunakan system kocoran untuk memenuhi kebutuhan air tanaman tembakaunya karena ketersediaan air yang sangat terbatas. Air dengan volume tertentu biasanya sekitar 0.5 liter dikocorkan pada setiap pangkal batang tanaman tembakau. Biasanya petani menyiram tembakaunya setiap 3 – 7 hari sekali dimulai sejak 5 hari setelah tanam sampai tembakau berumur 30 hari setelah tanam. Pada periode tertentu, petani langsung mencampur pupuk dengan air penyiraman tersebut. Kekurangan system ini adalah diperlukan banyak tenaga kerja sehingga tidak efisien. Disamping itu biasanya volume air yang diberikan tidak sama Antara satu tanaman dengan tanaman lainnya sehingga tanaman tumbuh kurang seragam. Walaupun begitu, system kocoran ini sangat menghemat air dan gulma yang tumbuh tidak terlalu banyak. Pemberian air dengan system kocoran ini merupakan irigasi tetes sederhana (simple drip irrigation)


b.     Irigasi Tetes (Drip Irrigation)

Sistim irigasi tetes (Drip irrigation) sudah banyak digunakan untuk tanaman-tanaman hortikultura bernilai tinggi seperti Cabe, paprika, tomat, melon dll. Irigasi tetes ini bisa digunakan di lahan terbuka maupun di Green house. Irigasi tetes juga bisa digunakan untuk tanaman tembakau. Beberapa keuntungan penggunaan irigasi tetes pada tanaman adalah :

1.      Meningkatkan produktivitas tembakau, bisa sampai 3 ton/ha

2.      Meningkatkan kualitas tembakau karena pertumbuhan tanaman tembakau seragam

3.      Mengurangi tingkat kerusakan tembakau saat pasca panen terutama daun bawah

4.      Hemat air

5.      Irigasi dapat dilakukan dalam jumlah dan waktu yang tepat.

6.      Menekan pertumbuhan gulma karena air hanya diteteskan di sekitar batang tanaman

7.      Tanah tidak memadat karena volume air yang diberikan tidak dalam jumlah besar

8.      Mmmm


c.      Peralatan yang diperlukan untuk Irigasi Tetes (Drip Irrigation)

  • Pompa air dan pipa-pipa
  • Saringan-saringan air
  • Tabung pemupukan
  • Pipa-pipa saluran drip irigasi meliputi Pipa pembagi Utama, Pipa pembagi sekunder dan pipa-pipa lateral yang akan membagikan air per tanaman
- See more at: http://tembakaurajangan.blogspot.com/2014/05/irigasi-tetes-drip-irrigation-untuk.html#sthash.5La8RA9T.dpuf
Share:

Selasa, 06 Januari 2015

Memulai Menanam Selada Hidroponik untuk Pemula

Hidrafarm kali ini mengupas tentang selada hidroponik dan bagaimana cara membuat rakit apung untuk menanam selada hidroponik untuk pemula.

Selada (Lactuca sativa) adalah tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropika. Kegunaan utama adalah sebagai salad. Produksi selada dunia diperkirakan sekitar 3 juta ton,yang ditanam pada lebih dari 300.000 ha lahan.

Selama ini, selada dimanfaatkan sebagai sayuran daun untuk salad dan disebut-sebut sebagai rajanya salad karena teksturnya yang sangat halus. Daun selada dikonsumsi secara mentah dan dapat ditemukan dalam salad atau hamburger. Penulis sendiri lebih senang mengkonsumsi selada sebagai lalapan teman makan sambal.

Selada memiliki beberapa jenis varian, namun yang dikenal secara luas hanya 5 jenis saja. Mereka adalah butterhead (Boston), selada cina, crisphead (Iceberg), looseleaf, Romaine, dan Summer Crisp (Batavia).



Selada cocok ditanam untuk dataran rendah - tinggi, daun berbentuk oval keriting, warna daun hijau segar, panen 30 - 40 HST, produksi mencapai 10 sampai 15 ton/ha.

Langkah-langkah menanam selada hidroponik adalah sbb:
Buatlah bak penampungan air dari kayu, kemudian berilah lapisan plastik untuk menampung air agar tidak mudah bocor!

Buatlah penutup bak hidroponik dengan styrofoam (gabus) yang dilubangi dengan diameter lebih kurang 5 cm! Lubang ini yang nantinya digunakan sebagai tempat menaruh netpot selada.

Sehingga jika tutup styrofoam diletakkan dalam bak akan tampak seperti berikut.
Setelah selada disemai, dan sudah muncul daun dan akar, selada dimasukkan ke dalam netpot. Kemudian netpot dimasukkan ke dalam lubang styrofoam.
Berikut desain dan ukuran membuat tempat menanam selada hidroponik dengan rakit apung.

Anda juga bisa menggunakan sistem DFT untuk menanam selada. Seperti berikut:




Share:

Sukses Budidaya Tomat

Salam semua sahabat hidarafarm, pada kesempatan ini, kami akan memberikan kiat sukses budidaya tomat dengan sisten konvensional, atau tanam di tanah. Mengapa tidak hidroponik? Artikel ini digunakan sebagai acuan menanam dengan hidroponik dan digunakan juga sebagai perbandingan.


PENDAHULUAN
Tanaman tomat (Lycopersicon lycopersicum L.) termasuk famili Solanaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini dapat ditanam secara luas di dataran rendah sampai dataran tinggi, pada lahan bekas sawah dan lahan kering.



PERSYARATAN TUMBUH
Tomat dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah. Tanaman dapat tumbuh baik pada tanah yang gembur, sarang, subur, banyak mengandung humus dan pH tanah berkisar antara 5–6. Temperatur optimum untuk pertumbuhan tomat antara 21-240C. Waktu Balai Penelitian Tanaman Sayuran 122 tanam diperhitungkan berdasarkan kemungkinan bahwa waktu berbunga dan berbuah jatuh dimusim kemarau tetapi masih ada sedikit hujan.

BUDIDAYA TANAMAN
1. Varietas
Varietas yang dianjurkan adalah Opal, Mirah, Jamrud, Permata, Martha, Idola dan sebagainya. Kebutuhan benih adalah sebanyak 100–150 g/hektar.
2. Persemaian
Sebelum disemai, benih direndam dahulu dalam air hangat (50°C) atau larutan Previcur N (1 ml/l) selama satu jam. Benih disebar merata pada bedengan persemaian dengan media berupa campuran tanah + pupuk kandang/kompos (1:1), lalu ditutup dengan daun pisang selama 2-3 hari. Bedengan persemaian diberi atap dari screen/kasa/plastik transparan. Persemaian ditutup dengan screen untuk menghindari serangan OPT. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan kedalam bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama (tanah + pupuk kandang steril). Penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit siap ditanam di lapangan setelah berumur 3 minggu.
3. Pengolahan Lahan
Dipilih lahan yang bukan bekas tanaman terung-terungan (Solanaceae). Sisa-sisa tanaman sebelumnya dikumpulkan lalu dikubur. Jika pH tanah kurang dari 5,5, digunakan kapur pertanian atau Dolomit (1,5 ton/ha) dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam. Kapur disebar rata, lalu dicangkul dan diaduk sedalam lapisan olah dengan merata sehingga pH tanah mencapai ± 6. Kemudian dibuat guludan dengan lebar 60 cm atau bedengan dengan lebar 120 cm sampai 160 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan panjang lahan. Tinggi guludan/bedengan 40-50 cm pada musim penghujan dan 0-20 cm pada musim kemarau.
Lubang tanam dibuat dengan jarak antar barisan 60-80 cm dan jarak dalam barisan 40-50 cm, sehingga diperoleh jarak tanam 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm. Jumlah tanaman per hektar berkisar antara 25.000-40.000 tanaman.
4. Penanaman
Penanaman bibit tomat dilakukan 3-4 minggu setelah dilakukan pengapuran. Bibit tomat berumur 3-4 minggu dari persemaian ditanam dalam lubang tanam yang sudah disediakan.
5. Pemupukan
Pupuk kandang yang digunakan berupa pupuk kandang sapi atau kuda sebanyak 30 ton/ha atau kira-kira 1 kg/ lubang tanaman. Sedangkan pupuk buatan berupa pupuk majemuk NPK 15-15-15 dengan dosis 1000-1200 kg/ha atau menggunakan pupuk tunggal pupuk Urea 125 kg/ha, ZA 300 kg/ha, TSP 250 kg/ha dan KCl 200 kg/ha.
Pupuk kandang, setengah dosis pupuk Urea dan ZA, pupuk TSP dan KCl diberikan pada tiap lubang tanam, 2-7 hari sebelum tanam, sebagai pupuk dasar. Sisa pupuk Urea dan ZA diberikan pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam dengan cara ditugal 10 cm dikiri dan kanan tanaman tomat.
6. Penggunaan Mulsa
Mulsa dapat berupa jerami setebal 5 cm (10 ton/ha) untuk musim kemarau (diberikan dua minggu setelah tanam tomat) atau berupa mulsa plastik hitam perak untuk musim kemarau dan musim hujan. Mulsa plastik hitam perak dipasang sebelum penanaman.
7. Pemeliharaan
Tanaman tomat memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaannya. Pemeliharaan yang perlu dilakukan antara lain: penyiraman, penyulaman, pengendalian gulma, perompesan tunas–tunas liar dan pemberian ajir atau turus serta pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman tomat tumbuh normal, kemudian diulang sesuai kebutuhan. Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang sakit atau mati sampai tanaman berumur 2 minggu. Pengendalian gulma dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah dan pemberian pupuk susulan. Perompesan tunas liar dilakukan pada tunas–tunas air, yaitu tunas–tunas tidak produktif atau tidak menghasilkan bunga dan buah. Kegiatan ini dilakukan beberapa kali, sehingga dalam satu pohon hanya tertinggal satu sampai tiga cabang utama saja.
Tanaman perlu diberi ajir untuk menopang tanaman agar tidak roboh. Ajir dapat dibuat dari bambu dengan panjang 1–1,5 m. Tanaman tomat diikatkan pada ajir tersebut secara longgar, sehingga tanaman tersebut cukup leluasa berkembang.
8. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
OPT penting yang menyerang tanaman tomat antara lain kutu kebul, pengorok daun, ulat grayak, ulat buah tomat, penyakit busuk daun, penyakit layu, virus kuning, dsb. Ulat tanah dikumpulkan dan dikendalikan secara fisik. Apabila serangan ulat tanah tinggi, dilakukan penyemprotan dengan insektisida. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain adalah :
- Untuk menghindari serangan hama H. armigera, di sekeliling tanaman tomat ditanami dua baris tanaman tagetes (Tagetes erecta) atau jagung sebagai tanaman perangkap.
- Penggunaan border 4 – 6 baris jagung dan penggunaan musuh alami (predator Menochilus sexmaculatus) untuk mengendalikan Bemisia tabaci.
- Penggunaan perangkap kuning, untuk mengendalikan hama.
- Apabila diperlukan pestisida, gunakan pestisida yang aman sesuai kebutuhan dengan memperhatikan ketepatan pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu, interval aplikasi dan cara aplikasi.
9. Panen Dan Pascapanen
Panen pertama buah tomat dilakukan pada umur 2–3 bulan setelah tanam (tergantung varietas dan kondisi tanaman). Panen dapat dilakukan antara 10–15 kali pemetikan buah dengan selang 2–3 hari sekali. Buah yang siap dipanen adalah yang sudah matang 30%. Total buah tomat yang dapat dipanen dari satu tanaman yang baik dapat mencapai 1–2 kg. Untuk pengangkutan ke tempat yang agak jauh, buah tomat dapat dikemas dalam peti–peti kayu, tiap-tiap peti berisi kurang lebih 30 kg buah tomat.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Sayuran
             Pusat Balai Penelitian dan Pengembangan Holtikultura
             Badan Penelitian dan Penggembangan Pertanian 2007
Share:

Sukses Budidaya Wortel

Salam semua sahabat hidarafarm, pada kesempatan ini, kami akan memberikan kiat sukses budidaya wortel dengan sisten konvensional, atau tanam di tanah. Mengapa tidak hidroponik? Artikel ini digunakan sebagai acuan menanam dengan hidroponik dan digunakan juga sebagai perbandingan.

PENDAHULUAN
Wortel (Daucus carota L) berasal dari Asia Tengah yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk famili Umbelliferae. Tanaman ini banyak ditanam di daerah beriklim temperate (sedang) pada musim dingin. Bila ditanam di dataran rendah akan tumbuh tinggi saja dan tidak terbentuk umbi.

PERSYARATAN TUMBUH
Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman wortel adalah 15-210C. Suhu demikian cocok untuk pertumbuhan akar dan bagian atas tanaman sehingga warna dan bentuk akar dapat optimal. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan wortel adalah tanah yang drainasinya baik, kaya bahan organik dan subur dengan ketinggian 1200-1500 m dpl. Tanah lempung berpasir cocok untuk budidaya wortel karena mudah untuk penetrasi akar sehingga pertumbuhannya dapat mencapai ukuran panjang dan besar yang optimal. pada tanah dengan pH 5-8. Kelembaban tanah merupakan hal yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman wortel, termasuk saat pesemaian agar diperoleh bibit dengan pertumbuhan yang seragam dan pertumbuhannya cepat setelah ditanam di lapangan.
Pertanaman tumpang sari tidak terlalu banyak digunakan dalam budidaya wortel, namun bila akan digunakan memerlukan pemilihan tanaman yang selektif.



BUDIDAYA TANAMAN
1. Benih
Kebutuhan benih wortel untuk satu hektar adalah 750–1.000 gram.
2. Persiapan Lahan
Persiapan tanah diperlukan untuk mendapatkan tanah yang subur dan gembur (kelembaban tanah yang cukup dan aerasi yang baik). Selain itu juga untuk menghilangkan gulma dan sisa pertanaman sebelumnya agar tidak mengganggu pertumbuhan perakaran wortel dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tanah dibajak dengan kedalaman 40-50 cm. Persiapan lahan sebaiknya dilakukan beberapa minggu sebelum tanam untuk memberikan kesempatan bagi bahan organik dapat terdekomposisi dengan baik. Pembuatan bedengan disesuaikan dengan ukuran dan kondisi lahan. Pembuatan bedengan perlu dilakukan agar drainase dan aerasi dapat berlangsung baik serta dapat mempermudah pemeliharaan.
Persiapan tanah dapat juga dilakukan dengan tanpa olah tanah atau dengan minimum tillage. Cara ini dapat mengurangi biaya, tenaga dan mengurangi kerusakan tanah.
3. Penanaman
Untuk pertanaman wortel, sebaiknya biji langsung ditanam dengan cara disebar di lahan pertanaman, hal ini dianjurkan karena bila menggunakan persemaian, biasanya saat pemindahan semaian ke lahan tanam banyak terjadi kerusakan perakaran sehingga pertumbuhan tanaman tidak baik. Ukuran biji wortel sangat kecil, sehingga untuk mempermudah penanaman biji dicampur dengan lempung sehingga terbentuk butiran yang lebih besar dan mudah ditabur. Seed treatment (perlakuan benih) perlu dilakukan baik dengan fungisida maupun dengan perendaman biji dalam air panas untuk mencegah perkembangan patogen tular benih.
Biji wortel ditanam dengan kedalaman tanam kurang lebih 3-5 cm, atau bahkan ditanam di permukaan tanah tanpa ditutup kembali. Kecepatan angin yang tinggi dapat merusak bibit yang baru tumbuh, sehingga disarankan untuk menanam tanaman barrier misalnya turnip sepanjang baris tanaman dan kemudian memanennya saat tanaman wortel sudah tumbuh dengan baik.
Kerapatan tanaman yang dianjurkan berbeda-beda tergantung tujuan penanaman wortel. Bila ditanam untuk dijual dalam bentuk produk segar wortel ditanam dengan kerapatan 175 tanaman/m2, bila menghendaki produk berukuran kecil kerapatan tanamnya 250 tanaman/m2, dan bila menghendaki produk berukuran besar, tanaman ditanam dengan kerapatan tanam 100 tanaman/m2.
4. Pemupukan
Tanah yang baik untuk budidaya wortel adalah tanah yang kaya bahan organik, mempunyai salinitas rendah dan tidak mengandung senyawa toksik. Pupuk kandang digunakan sebagai pupuk dasar sebanyak 1,5 kg/m2. Pupuk buatan berupa Urea 100 kg/ha, TSP 100 kg/ha dan KCl 30 kg/ha.
5. Pemeliharaan
Pengairan dilakukan sesuai dengan kondisi tanah sampai kondisi kapasitas lapang. Jika udara sangat panas, penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari. Penyiraman juga bisa ddilakukan dengan menggenangi parit. Penyiangan gulma dilakukan dengan hati-hati menggunakan tangan. Hal ini dilakukan karena dengan kondisi kerapatan tanaman yang tinggi, pencabutan gulma yang kurang hati-hati dapat merusak perakaran tanaman. Penyiangan gulma dapat dilakukan bersamaan dengan penjarangan tanaman. Penjarangan dilakukan dengan mencabut tanaman yang lemah dan meninggalkan tanaman yang sehat dan kokoh. Penjarangan dilakukan untuk memberi jarak dan tercukupinya sinar matahari. Pembumbunan perlu dilakukan untuk menutupi umbi akar agar tidak muncul warna hijau pada umbi.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Fumigasi dilakukan untuk mengendalikan nematoda dalam tanah. Sebelum melakukan fumigasi sebaiknya dicek terlebih dahulu apakah dalam tanah terkandung nematoda atau tidak. Solarisasi merupakan alternatif lain cara pengendalian nematoda selain dengan cara fumigasi. Solarisasi dilakukan dengan cara menutup tanah dengan mulsa plastik selama kurang lebih 6 minggu tergantung suhu lingkungan. Suhu tanah yang tinggi diharapkan dapat mematikan Organisme Pengganggu Tumbuhan dalam tanah. Penggunaan ekstrak marigold (Tagetes sp.) dapat juga digunakan untuk mengendalikan nematoda dalam tanah. Rotasi tanaman dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Penyakit-penyakit yang dapat menyerang tanaman wortel antara lain Cercospora carotae, Alternaria dauci, dan busuk hitam atau hawar daun. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menanam biji yang sehat, pergiliran tanaman, sanitasi kebun dan mencabut tanaman yang terserang.
7. Panen dan Pascapanen
Wortel dapat dipanen setelah berumur 100 hari (tergantung varietas). Panen yang terlambat dilakukan akan menyebabkan umbi berkayu sehingga tidak disukai konsumen. Panen dilakukan dengan cara mencabut umbi beserta dengan akarnya dan akan lebih mudah dilakukan jika tanah sebelumnya digemburkan. Sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Sayuran
             Pusat Balai Penelitian dan Pengembangan Holtikultura
             Badan Penelitian dan Penggembangan Pertanian 2007
Share:

Selasa, 30 Desember 2014

Cara Budidaya Wortel Hidroponik

Hidrafarm blog berkebun hidroponik yang selalu mengupas semua hal tentang hidroponik di tanah air tercinta ini. Anda tidak perlu menggali di tanah atau bahkan memiliki halaman untuk menanam sayuran sendiri. Anda juga tidak perlu banyak peralatan mahal. Sebuah sistem hidroponik sederhana memungkinkan Anda menanam sayuran di halaman rumah anda. Pada kesempatan ini hidrafarm akan membahas bagaimana cara budidaya wortel hidroponik

Wortel (Daucus carota L) berasal dari Asia Tengah yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk famili Umbelliferae. Tanaman ini banyak ditanam di daerah beriklim temperate (sedang) pada musim dingin. Bila ditanam di dataran rendah akan tumbuh tinggi saja dan tidak terbentuk umbi.

PERSYARATAN TUMBUH
Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman wortel adalah 15-210C. Suhu demikian cocok untuk pertumbuhan akar dan bagian atas tanaman sehingga warna dan bentuk akar dapat optimal. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan wortel adalah tanah yang drainasinya baik, kaya bahan organik dan subur dengan ketinggian 1200-1500 m dpl. Tanah lempung berpasir cocok untuk budidaya wortel karena mudah untuk penetrasi akar sehingga pertumbuhannya dapat mencapai ukuran panjang dan besar yang optimal. pada tanah dengan pH 5-8. Kelembaban tanah merupakan hal yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman wortel, termasuk saat pesemaian agar diperoleh bibit dengan pertumbuhan yang seragam dan pertumbuhannya cepat setelah ditanam di lapangan.
Pertanaman tumpang sari tidak terlalu banyak digunakan dalam budidaya wortel, namun bila akan digunakan memerlukan pemilihan tanaman yang selektif.

CARA MENANAM
Benih wortel disemai terlebih dahulu dalam wadah dengan media tanam arang sekam atau tanah berpasir. Usahakan sering disemprot dengan air untuk menjaga kelembaban tanah. Benih akan menumbuhkan daun batang dan umbi wortel.


Setelah umbi wortel dan batang daun cukup kuat, semaian wortel diambil dari media tanam dan dibersihkan. Bibit wortel siap dipindahkan ke sistem hidroponik yaitu dengan sistem tetes/ drip irigation. Media tanam yang digunakan bisa dengan clay ball atau pecahan batu bata.
 Wortel dalam media tanam clay ball tampak pada gambar di bawah ini.
 Atau bisa juga menggunakan media pecahan arang kayu seperti gambar di bawah ini.




toko online hidroponik





Share:

Kunjungi Halaman Kami

Cari Blog Ini

Blogroll

Like Us on Facebook

Trending now